Jumat, 13 Oktober 2017

97 Fakta unik anak farmasi


97 Fakta Unik Anak Farmasi


97FaktaUnikFarmasi
Sesudah pencapaian pageview yang mengharukan pada posting 77 Fakta Unik Mahasiswa Sanata Dharma, maka baiklah saya kembali dengan request dari beberapa pemirsa untuk membuat rekap fakta unik khusus anak farmasi. Yuk!
1. Pada saat SMA, anak farmasi adalah anak IPA *ya iyalah!*
2. 99,9% anak farmasi non SMF stres pada saat praktikum farmasetika
3. 99,9% anak farmasi non SMF mejanya berantakan pada praktikum farmasetika perdana
4. Anak farmasi mendadak jago gambar daun-daunan pada saat praktikum Botani
5. Atau mendadak jago gambar mikroba pas praktikum Mikrobiologi
6. Atau mendadak jago baca sandi rumput pas elusidasi struktur hasil spektrofotometri
7. Anak farmasi pernah membaca buku ‘Ilmu Meracik Obat’
8. Anak farmasi selalu berlindung di balik kata-kata ‘lege artis’ untuk setiap penyimpangan prosedur
9. Anak farmasi lebih tahu buku ‘Formularium Medicamentorium Nederlandicum’ daripada kitab Mpu Gandring
10. Pakaian kebesaran anak farmasi adalah jas lab
JasLab
11. Anak farmasi pernah lari-lari pakai jas lab
12. Anak farmasi yang gaul pernah naik motor pakai jas lab yang berkibar-kibar
13. Anak farmasi rajin bawa kain lap
14. Anak farmasi tampak study oriented karena mukanya sekucel lap
15. Anak farmasi pernah menyampirkan lap di bahu
16. Sebagian kecil anak farmasi pernah dimarahi dosen karena menyampirkan lap di bahu
17. Katanya, “kamu mau jadi pembantu atau mau praktikum?”
18. Oh, itu tadi pengalaman yang punya blog, sih
19. Jas lab anak farmasi pasti penuh noda, kalau nggak bernoda pasti nggak pernah praktikum
20. Anak farmasi pernah bikin laporan praktikum di depan lab
21. Atau di dalam lab

baca juga:
http://duniafarmasirendimario.blogspot.co.id/2017/10/titarsi-permanganometri-i.html
http://duniafarmasirendimario.blogspot.co.id/2017/10/cara-pemakaian-obat-yang-baik-dan-benar.html 

22. Anak farmasi mayoritas cewek, dengan keberadaan cowok antara 1:3 hingga 1:20
23. Makanya, anak farmasi cewek doyan jajan di kantin dekat Teknik, dengan tujuan penyegaran mata
24. Anak farmasi nggak pernah merokok di lemari asam
25. Anak farmasi pernah menggendong buku farmakope biar tampak kece
26. Atau kamus Dorland
27. Anak farmasi rajin begadang
28. Anak farmasi tahan bau mencit, berikut kotorannya
29. Anak farmasi tetap bisa makan dengan lahap meski ada bau kotoran mencit
30. Atau bau amoniak
31. Anak farmasi pernah bolos kuliah (2-3 SKS) untuk mengerjakan laporan praktikum (1 SKS). Aneh ya?
32. Sebagian anak farmasi takut pegang kuvet
33. Atau piknometer
34. Atau polarimeter
35. Soalnya mahal!
36. Asisten praktikum sering bilang “ini mahal” supaya praktikan hati-hati
Labu
37. Anak farmasi yang kece pernah bikin granul dengan remasan tangan
38. Anak farmasi meyakini bahwa memberi makan balita lebih mudah daripada mencit, dengan injeksi per oral
39. Anak farmasi pernah menimbang eeknya mencit
40. Anak farmasi ogah pakai sarung tangan kalau pegang mencit
41. Anak farmasi ogah pegang tikus kalau nggak pakai sarung tangan
42. Membunuh mencit adalah perbuatan yang terpaksa dilakukan anak farmasi demi kepentingan ilmu pengetahuan
43. Sebagian besar anak farmasi pernah membunuh mencit secara tidak sengaja
Mencit
44. Anak farmasi senang praktikum, tapi ogah bikin laporan
45. Anak farmasi nggak suka pre-test
46. Juga post-test
47. Demikian pula UTS dan UAS
48. Anak farmasi cowok adalah probandus utama untuk sampel darah dan sampel urine
49. Anak farmasi tetap mengeluh ketika disuruh bawa sampel urine, padahal kalau anak KU malah disuruh bawa feces dan sperma
50. Sebagian besar anak farmasi cowok tahu soal kurva baku karena diajarin teman yang cewek, bukan dari dosen
51. Probabilitas cinta lokasi sesama anak farmasi terbilang tinggi
52. Anak farmasi gemar menggunakan waktu tunggu ekstraksi untuk ngerumpi bin curcol
53. Atau waktu tunggu evaporasi
54. Atau waktu tunggu sintesis senyawa
55. Anak farmasi kalau cuci piring pasti bersih karena biasa cuci-cuci alat-alat gelas
56. Anak farmasi pernah ditanya “obat merk X ini gunanya buat apa?” sama keluarga atau tetangga atau mertua
57. Padahal di Indonesia saja ada ribuan merk obat, makanya anak farmasi sering merasa sebagai MIMS berjalan
58. Anak farmasi cewek biasanya rajin mencatat
59. Anak farmasi cowok jarang mencatat
60. Ada anak farmasi cewek yang nggak pernah berani pegang mencit, tapi nilai praktikum farmakologinya A
61. Ada anak farmasi cowok yang doyan pegang mencit tapi nilai praktikum farmakologinya C
62. Anak farmasi nggak berani nyuntik orang
63. Soalnya diajarinnya nyuntik mencit
Mencit2
64. Atau kelinci
65. Atau nyuntik sampel HPLC
66. Anak farmasi kayaknya kebal dibius kloroform, saking terbiasanya di lab Farmakognosi dengan segala solvent aneh-anehnya
67. Selalu ada anak farmasi IP Cum Laude yang pura-pura nggak bisa ngerjain ujian
68. Atau pura-pura memuji si bodoh yang masih saja belajar 5 menit sebelum ujian dimulai, “Ih, kamu rajin ya!”
69. Selalu ada anak farmasi yang kinerjanya mengecewakan dalam bikin tugas kelompok
70. Karena kepepet waktu, terkadang anak farmasi melakukan replikasi data secara fiktif
71. Atau menghitung ukuran partikel dalam praktikum mikromeritik sesuai wangsit yang diterima
72. Anak farmasi kagum pada hasil sediaan obat pertama yang dibuatnya, seburuk apapun bentuknya
73. Kekurangan cowok menyebabkan anak farmasi cewek dapat melakukan kegiatan berat seperti membuat kandang kelinci
74. Atau angkut jerigen aquades
75. Atau mencukur bulu kelinci
76. Anak farmasi yang cowok, sudah terbiasa dengan gerombolan rumpi anak farmasi cewek dengan modus ‘pembahasan hasil praktikum’
77. Anak farmasi yang skripsinya di lab, pernah nginap di lab
78. Atau setidaknya pulang malam
79. Atau pulang pagi
80. Dan masuk pada hari libur
Laboratorium
81. Anak farmasi termasuk yang paling tinggi passing grade-nya di kampus
82. Waktu tunggu kerja anak farmasi kalau sudah lulus hanya 0-3 bulan saja, kalau waktu tunggu jodoh… *kemudian hening*
83. Anak farmasi minat industri suka bingung kalau ditanya soal klinis
84. Anak farmasi minat klinis juga bingung kalau ditanya soal industri
85. Anak farmasi cowok umumnya bingung kalau ditanya apapun
AnakFarmasiCowok
86. Selalu ada anak farmasi yang keluar sesudah melewati tahun pertama
87. Karena kebanyakan cewek, anak farmasi umumnya menikah 0-3 tahun sesudah lulus kuliah
88. 99,9% anak farmasi yang bergelar S. Farm, pernah memelesetkan (calon) gelarnya sendiri menjadi Sarjana Pertanian atau Perkebunan
89. Anak farmasi pernah membedah mencit atau tikus bunting, untuk percobaan toksikologi teratogenik
90. Penulis buku OOM ALFA adalah anak farmasi #faktapenting2014 #faktapenting2015 #faktapenting2016
91. Anak farmasi pintar ngeles kalau disuruh minum obat
92. Tapi paling jago kalau nyuruh orang minum obat
93. Anak farmasi minat industri yang cewek sebagian ogah kerja di pabrik karena nggak bisa dandan
94. Referensi paling umum bagi setiap laporan praktikum adalah
buku OOM ALFAlaporan kakak kelas
95. Selalu ada anak farmasi yang kerja di bank
96. Selalu ada anak farmasi yang masuk farmasi karena Bokap-Nyokapnya juga lulusan farmasi
97. Anak farmasi juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati!
Banyak aja ya sampai 97. Ada yang kurang? Silakan ditambahkan di komentar ya! Just for fun!
https://ariesadhar.com/2014/03/17/97-fakta-unik-anak-farmasi/ 

panduan waktu minum obat

Cara makan/minum obat yang baik dan benar

Obat merupakan sesuatu yang umumnya dikonsumsi saat seseorang sakit. Pernahkah anda merasa sudah berobat ke 5aspirindokter tapi belum sembuh juga? Mungkin kita tidak harus mengatakan obatnya tidak manjur tapi lihat apakah cara minum obatnya sudah benar atau belum.
Banyak sekali pendapat tentang cara minum obat, seperti “kalau mau makan obat harus makan nasi terlebih dahulu, jangan minum obat dengan susu, dll”. Pendapat tersebut bisa benar, tetapi banyak juga yang keliru.
Walaupun sekali semua orang pasti pernah minum obat. Tapi mungkin banyak yang tidak menaruh perhatian terhadap obat yang dikonsumsi. Banyak orang minum obat bebas atau obat yang diresepkan dokter tanpa mempedulikan kemungkinan timbulnya efek samping atau adanya kontraindikasi dari obat yang diminum.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam minum obat :
A. Periode Minum
Disini maksudnya jika sakit dan harus minum obat tiga kali sehari maka minum obatnya tidak boleh sekehendak hati. Kita seringkali minum kalo ingat saja, atau minumnya tidak jelas kapan dan suka lupa. Maksud 3 x 1 tablet sehari artinya minum obatnya tiap 8 jam sekali, kalo 2 x 1 tablet artinya 12 jam sekali minum. Karena dalam satu hari ada 24 jam jadi dibagi berapa kali minumnya. Jadi meski kita minum obat sudah tiga kali sehari tapi periodenya tidak tepat atau malah molor maka kadarnya obatnya tidak akan efektif.
B. Sebelum Makan atau Sesudah makan
“Boleh diminum kapan saja” Tetapi di lain pihak masyarakat bertanya-tanya, benarkah obat ini aman diminum tanpa makan terlebih dahulu. Tidakkah hal ini akan berpengaruh terhadap lambung dan beribu pertanyaan lain yang timbul dibenak tentang interaksi yang mungkin terjadi antara obat dan makanan.
Banyak orang beranggapan yang penting obatnya sudah saya minum ternyata tidak se simple itu. Beberapa obat ada yang absorbsinya baik jika perut kosong atau perut terisi.
Sebetulnya bagaimana makanan dapat mempengaruhi kerja obat? Obat yang diberikan secara oral  akan melalui saluran pencernaan terlebih dahulu. Oleh karena itu hasil kerja obat di dalam tubuh manusia sangat mungkin dipengaruhi oleh makanan atau minuman yang dikonsumsinya. Mekanismenya bisa terjadi melalui penghambatan penyerapan obat atau dengan mempengaruhi aktivitas enzim di saluran cerna ataupun enzim di hati.
Ada 2 kemungkinan hasil interaksi obat dan makanan. Yang pertama interaksi obat dan makanan dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan khasiat atau manfaat obat dan yang kedua dapat meningkatkan efek samping atau efek dari obat itu sendiri.
Sebaiknya baca aturan pakai dengan seksama, kalau dikatakan diminum sebelum makan, artinya minumlah obat saat perut kosong (1/2  sampai 1 jam sebelum makan). Sebaliknya kalau tertulis diminum sesudah makan, artinya diminum saat lambung terisi makanan (selesai makan sampai ½ jam sesudah makan) dan ada lagi obat yang diminum saat makan.
gantenginC. Takaran yang pas
Artinya sesuai dosis yang dianjurkan, missal kalo dapat obat dalam bentuk larutan (sirup) di suruh minum satu sendok teh artinya bukan sendok teh kecil yang ada di rumah kita. Sendok kecil umum di Indonesia hanya berkisar 3mL, sementara takaran yang tepat untuk satu sendok teh adalah 5 mL. Biasanya obat sirup sudah ada sendok obatnya (sendok takar) yang mana 1 sendok takar sama dengan 5 mL.
Untuk sendok besar (sendok makan ) yang ada di rumah kita mungkin hanya berkisar 7 mL, sementara takaran yang benar untuk satu sendok makan adalah 15 mL.
Sehingga jika obat yang diberikan tidak dengan takaran yang pas (sesuai) maka dosis obat yang diberikan juga tidak sesuai, bisa jadi dosisnya kurang atau berlebih yang pada akhirnya akan berakibat fatal.
Berikut beberapa pendapat umum tentang minum obat
1. Sebelum minum obat harus makan terlebih dahulu
Bisa benar, bisa salah
Ada obat-obat yang harus diminum setelah makan karena obat-obat ini mengiritasi lambung, tetapi ada juga golongan obat yang harus diminum sebelum makan, karena adanya makanan dalam lambung dapat menghambat penyerapannya.
2.  Minum obat dengan softdrink bisa mabok
Bisa benar, bisa salah
Softdrink mengandung karbonat yang mudah bereaksi dengan zat kimia lain yang terkandung dalam obat. Oleh karena itu minum obat bersama minuman bersoda sangat tidak dianjurkan. Kalau tentang mabok atau tidak, tergantung obat apa yang dikonsumsi dan bagaimana keadaan tubuh seseorang, karena reaksi obat pada orang yang satu dengan orang yang lain bisa berbeda. Minum obat paling baik dengan air putih.
3. Vitamin C bisa menimbulkan maag
Bisa benar, bisa salah
Vitamin C bersifat mengiritasi lambung, oleh karena itu jangan dikonsumsi saat perut kosong. Tetapi seiring perkembangan di bidang farmasi, saat ini gugus asam pada vitamin C ada yang diesterifikasi sehinga tidak bersifat asam lagi dan akibatnya tidak lagi mengiritasi lambung (ex:Ester C). Vitamin C jenis ini relatif aman bila diminum sebelum makan.
4. Obat pusing bisa diminum saat perut kosong
Benar
Obat pusing biasanya mengandung parasetamol atau metampiron. Zat-zat ini penyerapannya akan terhambat dengan adanya makanan dalam lambung. Jadi dianjurkan untuk minum obat ini saat perut kosong agar didapat efek yang cepat.
5. Tidak boleh minum obat bersama susu
Benar
Susu tersusun atas materi yang cukup kompleks, salah satunya adalah kalsium. Beberapa obat diketahui bereaksi dengan kalsium susu sehingga dapat menghambat penyerapannya misalnya tetrasiklin. Bila penyerapannya terhambat, obat tidak dapat memberikan efek yang diharapkan.

Kapan Saat yang Tepat untuk Minum Obat?

Mengkonsumsi obat, baik obat bebas atau obat dengan resep dokter termasuk antibiotik sebaiknya tidak dilakukan saat perut dalam keadaan kosong karena dapat menyebabkan efek yang buruk. Selalu gunakan air putih bukan kopi, susu atau teh saat minum obat. Dan yang terpenting selalu ikuti anjuran pemakaian agar terhindar dari efek samping yang berbahaya.

Titrasi Permanganometri

Titarsi Permanganometri


         I.            JUDUL 
                        Permanganometri
      II.            TUJUAN
                        1. Untuk mengetahui konsentrasi larutan baku KMnO4
                                2. Untuk menentukkan kadar Ferrosi Sulfat secara Permanganometri
   III.            LANDASAN TEORI
Permanganometri merupakan suatu penetapan kadar atau reduktor dengan jalan dioksidasi dengan larutan baku Kalium Permanganat (KMnO4) dalam lingkungan asam sulfat encer. Metode permanganometri didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganat. Oksidasi ini berlangsung dalam suasana asam, netral, dan alkalis, dimana kalium permanganate merupakan oksidator yang kuat sebagai titran. Titrasi ini didasarkan atas titrasi reduksi dan oksidasi atau redoks. Kalium permangant inilah yang telah digunakan meluas lebih dari 100 tahun. (Shevla, 1995).
Pada teknik titrasi ini biasa digunakan untuk menentukkan kadar oksalat atau besi dalam suatu sampel. Kalium Permanganat merupakan peran oksidator yang paling baik untuk menentukan kadar besi yang terdapat dalam sampel dalam suasana asam dengan menggunakan larutan asam sulfat (H2SO4). Permanganometri juga bisa digunakan untuk menentukan kadar belerang, nitrit, fosfit, dan sebagainya. (Anonim, 2009c)
Senyawa Natrium Oksalat juga merupakan standar primer yang bai untuk larutan permanganate. Stabil, dan tidak higroskopis serta mudah diperoleh dengan derajat kemurnian yang tinggi. Oksida itu dilarutkan dalam natrium hidroksida, larutan di asamkan dengan asam klorida dan titrasi dengan permanganat. Penetapan besi pada bijih besi merupakan salah satu penerapan paling penting dari titrasi permanganat.
Asam klorida adalah asam terbaik yang digunakan untuk menentukan bijih besi. Oksida terhidrasi mudah larut, jika larutan itu mengandung asam klorida. Seperti sering kali memang demikian, reduksi dengan Timah (II) klorida akan nyaman. Timah klorida itu ditambahkan kedalam larutan sampel yang panas dan majunya diikuti dengan menghilangnya warna kuning dari ion besi (III).
Sn + Fe3+                 Sn4+  +  Fe2+
Suatu larutan kalium permanganat dapat digunakan secara tidak langsung dalam penetapan zat pengoksid terutama oksida yang lebih tinggi seperti logam, timbale, dan mangan. Oksida semacam itu sukar dilarutkan dalam asam ataupun basa tanpa mereduksi logan itu kedalam oksida ke lebih rendah. Kemudian kelebuhan zat pereduksi itu dititrasi dengan permanganat standar.
Pada penetapan kadar zat dalam titrasi permanganometri berdasarkan reaksi redoks dengan KMnO4 atau dengan cara permanganometri. Hal ini dilakukan untuk menentukan kadar reduktor dalam suasana asam dengan menambahkan H2SO4 encer karena asam sulfat tidak bereaksi terhadap permanganate dalam larutan-larutan encer. pembakuan KMnO4 dibuat dengan melarutkan KMnO4 dalam sejumlah air, dan menghilangkan dalam beberapa jam. Kemudian endapan MnO2 disaring. Endapan tersebut dibakukan dengan menggunakan zat baku utama yaitu Natriun Oksalat. Larutan KMnO4 yang diperoleh dibakukan dengan cara mentitrasinya dengan Natrium Oksalat yang dibuat dengan pengenceran kristalnya pada suasana asam. Pada pembakuan larutan KMnO4 0,1 N, Natrium oksalat dilarutkan kemudian ditambahkan dengan H2SO4. Setelah itu dititrasi dengan KMnO4  sampai larutan berubah menjadi pink. Setelah didapat volume titrasi, maka dapat dicari Normalitas KMnO4. (Anonim, 2009d)
   IV.            ALAT DAN BAHAN
1.                  ALAT
1)                  Aluminium foil
2)                  Batang pengaduk
3)                  Buret ; 25 mL
4)                  Erlenmeyer ; 250 mL
5)                  Gelas kimia ; 250 mL
6)                  Karet penghisap
7)                  Klem dan statif
8)                  Labu tentukur ; 250 mL
9)                  Pipet volume ; 5 mL. 10 mL, 15 mL
10)              Sendok tanduk
11)              Thermometer
12)              Timbangan analitik
13)              Timbangan digital
2.                  BAHAN
1)                  Aquades
2)                  Asam oksalat
3)                  Asam sulfat 2N
4)                  Ferrosi sulfat
5)                  Kalium permanganat
6)                  Natrium oksalat
PROSEDUR KERJA
1.          Pembakuan larutan Kalium Permanganat 0,1 N
1)      Dipipet 10 mL larutan Natrium Oksalat
2)      Dilarutkan dalam 15 mL aquades dan 2 mL asam sulfat encer 2 N
3)      Dipanaskan suhunya sampai 800C
4)      Dititrasi dengan kalium permanganat secara perlahan-lahan melalui buret sampai warna pink tidak hilang selama 30 detik
5)      Dilakukan 3x
6)      Dihitung normalitas KMnO4.
2.           Penetapan kadar ferrosi sulfat
1)      Ditimbang seksama 0,42 gram ferrosi sulfat
2)      Dimasukkan kedalam Erlenmeyer, larutkan dengan 25 mL aquadest dan 15 mL asam sulfat 2 N (aquadest harus bebas co2)
3)      Dititrasi dengan KMnO4.baku sampai warna pink dan tidak hilang selama 30 detik
4)      Dihitung kadar ferrosi sulfat
3.           Pembuatan reagen H2SO4 2 N, 200 mL
1)      Dipipet 11,09 mL larutan pekat H2SO4
2)      Dimasukkan kedalam labu tentukur 200 mL yang telah berisi sedikit aquades
3)      Dicukupkan volumenya sampai tanda batas
4)      Dikocok homogeny
5)      Diberi etiket
 
4.           Pembuatan reagen Na2C 2O4 , 50 mL 0,1 N
1)      Ditimbang seksama 0,34 gram Na2C 2O4
2)      dilarutkan dengan aquades didalam gelas kimia dan aduk sampai larut dengan menggunakan batang pengaduk
3)      dimasukkan kedalam labu tentukur 50 mL
4)      dicukupkan volumenya dengan aquades sampai  tanda batas
5)      dikocok homogen
6)      diberi etiket
5.           pembuatan reagen KMnO4. 0,1 N 1000 mL
1)      Ditimbang seksama 3,16 gram KMnO4
2)      Dilarutkan dengan aquades di dalam gelas kimia
3)      Dimasukkan kedalam labu tentukur 1 liter sambil disaring dengan menggunakan kertas saring
4)      Dicukupkan volumenya dengan aquades sampai tanda batas
5)      Dikocok homogen
6)      Diberi etiket.
      V.            PERHITUNGAN DAN PEMBUATAN REAGEN
1.      H2SO4  2 N, 200 mL
N         =          ρ. %bw. 1000
                                 BE
                        =          1,84 . 0,96 . 1000
                                 98/2
                        =          36,05 ek/L
Pengenceran :
N1.V1          =     N2.V2
36,05 . V1    =     2 . 200
                        V1    =     400
                                     36,05
                               =     11,09 mL
2.      Na2C2O4  0,1 N, 50 mL
            N         =          gram   x   1000  . n
                                    Mr             V
            0,1       =          gram   x   1000  . 2
                                    134           50
            gram    =          0,1 x 134 x 50
                                         1000 . 2
                        =          670
                                    2000
                        =          0,34 gram
3.      KMnO4 0,1 N, 1000 mL
            N         =          gram   x   1000  . n
                                    Mr             V
            0,1       =          gram   x   1000  . 5
                                    158          1000
            gram    =          0,1 x 158 x 1000
                                         5 . 1000
                        =          15800
                                     5000
                        =          3,16 gram


   VI.            DATA HASIL PENGAMATAN
1.      Hasil Pengamatan
1)      Pembakuan Larutan Baku KMNO4, 10 mL
No
Titrasi
Volume Buret
Perubahan Warna Indikator
1.
Na2C2O4
11,75 mL
Bening → pink
2.
Na2C2O4
12 mL
Bening → pink
3.
Na2C2O4
11,5 mL
Bening → pink
Volume rata-rata = 11,75 mL
2)      Penetapan Kadar Ferrosi Sulfat
No
Titrasi
Volume Buret
Perubahan Warna Indikator
1.
KMnO4
16,9 mL
Bening → pink
2.
KMnO4
17,15 mL
Bening → pink
3.
KMnO4
16,25 mL
Bening → pink
2.      Perhitungan
*      Natrium Oksalat
Berat kertas + Berat sampel          =          0,5448 gram
Berat kertas                                   =          0,2068 gram   _
                              Berat sampel   =          0,3380 gram
Ø  Secara Praktikum
      N         =          gram   x   1000  . n
                              Mr             V   
      N         =          0,3380   x   2000
                          134             50
N         =          0,1008 ek/L
*      Penimbangan Penetapan Kadar Ferrosi Sulfat
I.    Berat kertas + Berat sampel =          0,6241 gram
 Berat kertas                            =          0,2136 gram   _
                                    Berat sampel   =          0,4105 gram
II.  Berat kertas + Berat sampel   =          0,6352 gram
 Berat kertas                            =          0,2105 gram   _
                                    Berat sampel   =          0,4247 gram
III. Berat kertas + Berat sampel =          0,6051 gram
  Berat kertas                           =          0,2031 gram   _
                                    Berat sampel   =          0,4020 gram
*      Pembakuan KMnO4 dengan Natrium Oksalat
ek. KMnO4 ~ ek. Na2C2O4
N KMnO4 . Vrata-rata KMnO4           = N Na2C2O4 . Vrata-rata Na2C2O4
N KMnO4           = N Na2C2O4 . Vrata-rata Na2C2O4
                                                     Vrata-rata KMnO4        
 N KMnO4          = 0,1008 ek/L x 10 mL
                                  11,75 mL
            = 0,0857 ek/L
*      Penetapan Kadar FeSO4
% Kadar    = N KMnO4 . Vrata-rata KMnO4 . BE FeSO4   x 100%
                                          Berat sampel
1.   % kadar I = 0,0857 ek/L . 16,9 ml. 1L/1000 mL . 76 g/ek    x 100%
                                                      0,4105 g
                      = 0,1100  x 100%
                         0,4105
                      = 26,81 %
 2.  % kadar II  = 0,0857 ek/L . 17,15 ml. 1L/1000 mL . 76 g/ek    x 100%
                                                      0,4247 g
                         = 0,1117  x 100%
                            0,4247
                         = 26,30 %
3.  % kadar III = 0,0857 ek/L . 16,25 ml. 1L/1000 mL . 76 g/ek    x 100%
                                                      0,4020 g
                         = 0,1058  x 100%
                            0,4020
                         = 26,32 %
% kadar rata-rata   =  % kadar I + % kadar II + % kadar III
                                                         3
                              = 26,81 % + 26,30 % + 26,32 %
                                                      3
                              = 79,43 %
                                     3
                              = 26,47 %
3.      Reaksi
-          H2SO4         →   2 H+ + SO42-
-          FeSO4         →   Fe2+ + SO42-
-          KMnO4     →   K+ + MnO4-
-          2 KMnO4 + FeSO4           →   K2SO4 + Fe(MnO4)2
-           2 KMnO4 + Na2C2O4      →   K2 C2O4 + 2 NaMnO4



VII.            PEMBAHASAN
Pada percobaan kali ini metode titrasi yang digunakan adalah metode titrasi secara permanganometri. Permanganometri merupakan suatu penetapan kadar atau suatu reduktor dengan jalan dioksidasi dengan larutan kalium permanganat dalam lingkungan asam sulfat encer.
Dalam pembakuan larutan kalium permanganat, titrasi permanganometri digunakan untuk mentapkan kadar reduktor dalam suasana asam sulfat encer dengan menggunakan kalium permanganat sebagai titran. Oleh karenanya pembuatan KMnO4 sangat dibutuhkan pada saat melakukan titrasi  KMnO4. Kalium permanganat ini merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat. Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indikator, karena mampu bertindak sebagai indikator sehingga pada larutan ini tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung di titrasi dengan larutan natrium oksalat (Na2C2O4),
·         Standarisasi Natrium Oksalat
Natrium oksalat juga merupakan standar yang baik untuk standarisasi permanganat dalam suasana asam. Larutan ini mudah diperoleh dengan derajat kemurnian yang tinggi. Pada penambahan tetesan titrasi selanjutnya warna merah hilang semakin cepat karena ion mangan (II) yang terjadi sebagai katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi. Pada mulanya memipet Natrium Oksalat sebanyak 10 mL pada labu Erlenmeyer kemudian ditambahkan dengan H2SO4 sebanyak 2 mL, kemudian dipanaskan sampai suhunya 80OC dengan menggunakan thermometer, kemudian di titrasi dengan KMnO4.
Dalam proses ini laruitannya harus dipanaskan karena beberapa faktor yaitu :
1.      Untuk mempercepat laju reaksi
2.      Dengan laju reaksi yang cepat maka larutan tersebut cepat teroksidasi dari MnO4 menjadi Mn2+ dan H2O, sehingga volume yang dinginkan pada proses titrasi dengan cepat diperoleh.
Apabila tidak dipanaskan dengan penambahan KMnO4 maka menjadi kehilangan oksalat disebabkan terbentuknya peroksida. Dari percobaan yang dilakukan setiap volume yang dihasilkan dari proses TAT yang dilakukan sebanyak 3 kali merupakan tolak ukur.
Berdasarkan hal tersebut, cara menentukan normalitas :
-        Pada Erlenmeyer I, setelah dipanaskan pada suhu 800C, kemudian dititrasi dengan KMnO4 dari bening menjadi pink, dengan volume KMnO4 16,9 mL.
-        Pada Erlenmeyer II, setelah dipanaskan pada suhu 800C, kemudian dititrasi dengan KMnO4 dan mengalam perubahan warna dari bening menjadi warna pink, dengan volume KMnO4  17,15 mL
-        Pada Erlenmeyer III, setelah dipanaskan pada suhu 800C, kemudian dititrasi dengan KMnO4 mengalami perubahan warna dari bening menjadi pink, dengan volume KMnO4  16,25 mL
Dari hasil perhitungan yang ada dan volume yang telah diakumuolasi di peroleh Normalitas  KMnO4 sebesar 0,0857 ek/L.
·         Penetapan kadar Ferrosi Sulfat
Pada penetapan kadar FeSO4  di mulai dengan penimbangan kemudian di masukkan ke dalam Erlenmeyer lalu di tambahkan 15 mL asam sulfat 2 N. setelah itu di kocok hingga homogen. Lalu di panaskan sampai suhunya 800C. setelah itu dititrasi dengan  KMnO4 sampai warna berubah dari bening menjadi pink
Adapun hasil yang di peroleh pada praktikum ini adalah  pada pembakuan atau standarisasailarutan KMnO4  di dapatkan Normalitas 0,857 ek/L dan pada penetapan kadar FeSO4 dengan mengguanakan metode permanganometri di peroleh :
-        % kadar I FeSO4     = 26,81%
-        % kadar II FeSO4    = 26,30%
-        % kadar III FeSO4  = 26,32%
 Sehingga diperoleh rata-rata kadar Ferrosi Sulfat (FeSO4) sebesar 26,47 %.
  VIII.       KESIMPULAN DAN SARAN
1.      KESIMPULAN
Dari hasil percobaan tersebut dapat disimpulkan bahwa :
1)      Pada pembakuan larutan baku KMnO4 dengan Na2C2O4 titik akhir titrasi di tandai dengan perubahan warna dari bening menjadi pink. Serta di peroleh konsentrasi larutan baku KMnO4  adalah 0,0857 ek/L
2)      Penetapan kadar ferrosi sulfat dengan KMnO4 titik akhir titrasi di tandai dengan perubahan warna dari bening menjadi pink serta di peroleh % kadar Ferrosi Sulfat, sbb :
-        % kadar I FeSO4     = 26,81%
-        % kadar II FeSO4    = 26,30%
-        % kadar III FeSO4  = 26,32%
3)      % kadar rata-rata FeSO4  = 26,47%
2.      SARAN
Dalam percobaan ini di harapkan praktikan agar :
1)      Lebih teliti dan hati-hati dalam melakukan titrasi
2)      Untik menghindari terkontaminasinya larutan KMnO4 di usahakan agar percobaan cepat dilakukan.
3)      Menjaga suhu larutan pada saat titrasi
4)      Teliti melihat dan mengukur volume KMnO4 pada buret yang digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Chandra, I.G.N. putu.2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar. Kendari : AKFAR Bina Husada Kendari
Day, R.A. dan A.L underwood.1993. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi ke 4. Jakarta : Erlangga
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia. Cetakan ke III : Bumi Aksara
Svehla, G. 1995. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kuantitatif. Kalman Media Pustaka : Jakarta